Wisata Unik dan Aneh : Wisata sepeda onthel di Pulau Jawa
Sejumlah tokoh onthelis (penggemar sepeda Onthel) asal Belanda dan Perancis bersepeda keliling kawasan candi Borobudur, Magelang, Jateng, pada Selasa (26/3). (FOTO: ANTARA/Anis Efizudin)
Sabtu (23/3) lalu, Presiden International Veteran Cycle Association (IVCA) Alain Charlies Albien Cuvier menghadiri Bandung Lautan Onthel (BLO) III untuk meresmikan Indonesia sebagai anggota IVCA ke-34. Menurut data dari situs www.sepedaonthel.com, terdapat sedikitnya 66 klub onthelis yang tersebar di 39 kota di Indonesia.
Ia bersama dua onthelis (penggemar sepeda onthel) asal Perancis dan Belanda, Otto Beajoun dan Andre Koopman bertandang ke Jawa Tengah, pada Rabu (26/3) siang kemarin, dan bersepeda onthel mengelilingi kawasan Candi Borobudur, Mendut, Pawon, dan desa-desa sekitarnya. Kunjungan tersebut sekaligus dalam rangka silaturahim dengan onthelis Indonesia dalam rangka kampanye kepedulian lingkungan alam, sosial, budaya, dan pariwisata.
Berminat merasakan sensasi masa lampau menyusuri kota dan pedesaan dengan bersepeda onthel? Berikut adalah beberapa daerah yang menyediakan fasilitas wisata sepeda onthel yang bisa Anda coba.
Kota TuaJakarta
Seorang bapak berpose di depan deretan sepeda onthel yang berwarni-warni di kawasan Kota Tua, Jakarta. (FOTO: WEGO Photo Contest/Fajar Darmadi)
Wisatawan asal Eropa jauh-jauh datang ke Kota Tua untuk bernostalgia dengan Batavia. Enaknya, Anda datang ke sini pada sore hari agar tak terbakar teriknya matahari.
Sepeda onthel dihias menarik dengan warna-warna cerah, serta ada pula yang diberi tambahan hiasan bunga di bawah stang. Topi berwarna senada yang sepaket dengan penyewaan sepeda akan membuat Anda tampak modis saat menggowes si antik.
Beberapa tempat bersejarah yang bisa Anda sambangi antara lain Sunda Kelapa, Museum Bahari, Menara Syah Bandar, Toko Merah, Stasiun Beos, dan Jembatan Kota Intan.
Untuk menikmati bersepeda onthel di Kota Tua, kita cukup merogoh kocek sebesar Rp 30.000 per jam, atau Rp 150.000 per hari. Penyewaan sepeda dibuka sejak pukul 08:00 – 18:00.
BorobudurMagelang
Bersepeda onthel di kawasan Candi Borobudur. (FOTO: Wisata Sepeda Onthel)
Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 15.000, Anda dapat berkeliling kawasan Borobudur dan sekitarnya sambil mengunjungi candi-candi Hindu – Buddha yang bersejarah.
Terdapat tiga candi yang terdapat di daerah ini, antara lain Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Ketiganya terbujut membentang dalam satu garis lurus, dan kerap disebut sebagai tiga candi serangkai.
Opsi lainnya, Anda dapat memilih untuk tilik ndeso, menyusuri desa-desa di kawasan Borobudur. Nikmati hembusan angin yang menerpa wajah saat melintas di pematang sawah. Jika merasa lelah, istirahat sejenak sembari menyantap sate klathak atau jajanan tradisional lainnya. Wisata Sepeda Onthel berlokasi di Jalan Balaputra Dewa Desa Wisata Wanurejo, Borobudur, Magelang.
Sentolo, Kulon ProgoYogyakarta
Paket wisata “Bale Onthel” yang diprakarsai oleh Towil Fiets. (FOTO:www.jogjakartatop10.blogspot.com)
Sentolo terletak tak begitu jauh dari pusat kota Yogyakarta. Tepatnya, di sebelah barat Sungai Progo yang memisahkan Kecamatan Sentolo (Kabupaten Kulon Progo) dan Kecamatan Sedayu (Kabupaten Bantul).
Bersepeda di daerah ini menarik minat banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika penat hidup di tengah kebisingan kota, wisata bersepeda keliling desa ini bisa menjadi pelarian singkat yang menyenangkan. Sambil bersepeda, Anda juga dapat melihat berbagai macam aktivitas penduduk seperti pembuatan gamelan, penggilingan padi, pemintalan tenun, dan sebagainya.
Rute perjalanan yang biasa ditempuh sejauh 6 Km. Mulai dari Dusun Bantar dengan Jembatan Bantar yang bersejarh, lalu menuju komplek persawahan di Dusun Beling. Anda dapat menimati jajanan pasar seperti wajik, tahu bacem, ketela goreng, dan minum air kelapa sambil bersantai di sawah.
Ada pemandu yang siap membantu wisatawan selama bersepeda keliling desa. Untuk dapat menikmati paket wisata sepeda onthel yang dipandu oleh seorang guide, Anda akan dikenakan biaya sebesar Rp 300.00 per orang. Jika berminat, langsung saja sambangi penggagas paket wisata Bale Onthel ini, Towil Fiets, di Desa Bantar, Kecamatan Sentolo.
Imogiri, Kotagede, Tegalgendu, MataramYogyakarta
Memarkir sepeda onthel sejenak saat mengeksplor Kotagede. (FOTO: Soboalas)
Nikmati blusukan ke kota-kota di Yogyakarta dengan bersepeda. Para pemandu akan mengajak Anda ke tempat-tempat menarik, dan berinteraksi langsung dengan penduduk lokal. Selain itu Anda juga dapat mencoba berbagai kegiatan yang ada, seperti membuat kerajinan perak, kerajinan bambu, hingga memasak menu-menu tradisional.
Paket wisata yang digagas oleh Soboalas ini terbagi menjadi dua tergantung durasi. Untuk wisata onthel selama 6 jam, Anda cukup membayar Rp 180.000, atau Rp 150.000 jika terdiri dari dua orang atau lebih. Sementara wisata onthel berdurasi hingga 12 jam dikenakan biaya sebesar Rp 300.000 per orang, atau Rp 250.000 jika yang ikut terdiri dua orang atau lebih. Harga ini sudah termasuk biaya penyewaan sepeda, suvenir, dan santapan tradisional.
Bagi yang mengambil wisata onthel berdurasi 12 jam, selain diajak berkeliling kota, Anda juga akan diajak mengunjungi Sungai Opak dan desa yang berlokasi di sekitarnya, serta ke makam keramat di Imogiri.
Shares News
-
21.21
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Sumatra : Empat Wisata Samosir yang Unik
Ke Danau Toba, belum lengkap kalau tidak mampir ke Samosir. Pulau berhawa sejuk yang terletak di tengah-tengah danau terluas Asia Tenggara tersebut memiliki adat Batak yang kental dan kuliner berbahan dasar ikan danau yang menggoyang lidah. Pengen liburan ke Samosir? Pastikan kamu tahu wisata-wisata seru yang bisa kamu nikmati di sana.
Sigale-gale
Awalnya tampil di upacara pemakaman, sekarang boneka menari sigale-gale lebih sering ditampilkan untuk hiburan wisata. Di Pulau Samosir, ada dua tempat yang bisa dipilih untuk melihat pertunjukkan sigale-gale, yakni Huta Bolon dan Huta Simanindo.
Boneka ini terbuat dari kayu beringin, yang diukir dan dihias lagi dengan kostum tradisional seperti turban merah, kemeja hitam longgar, dan sarung biru. Sigale-gale lalu ditancapkan pada sebuah kotak kayu panjang, yang mengatur gerakan boneka supaya tampak menari mengikuti musik yang mengalun.
Sejarah sigale-gale tidak lepas dari cerita tentang kesedihan Raja Harahap yang kehilangan putra kesayangannya, Manggale. Ia tewas saat kerajaan tersebut berperang guna memperluas wilayah. Untuk mengobati dukanya, rakyat membuat patung yang menyerupai Manggale. Saat raja rindu dengan anaknya, ia akan menggelar pesta tari sigale-gale. Raja Harahap memanggil dukun untuk membuat sigale-gale bergerak. Tujuh hari lamanya, boneka tersebut terus menari diiringi musik tradisional togading. Setelah boneka tersebut berhenti menari, boneka tersebut dipasangi tali supaya bisa bergerak secara mekanis.
Rumah Bolon
Pulau Samosir diyakini sebagai daerah asal dari etnik Batak Toba. Untuk melihat rumah adat Batak Toba, wisatawan bisa berkunjung ke Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Samosir, Sumatra Utara. Di tempat ini, kamu bisa melihat rumah adat yang kondisinya masih terjaga dengan baik. Rumah tradisional yang disebut Rumah Bolon tersebut berbentuk rumah panggung dengan konstruksi kayu tanpa paku. Ciri lain, atapnya terbuat dari serat nira, kemudian atap belakangnya lebih tinggi dari atap depan.
Rumah adat Batak Toba di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Samosir, Danau Toba. Foto: Antara/Irsan Mulvadi
Makam Tua Raja Sidabutar
Salah satu daya tarik lain dari Pulau Samosir adalah Makam Tua Raja Sidabutar di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo. Makam tersebut dipahat dari batu utuh, tanpa sambungan, dan menjadi peristirahatan terakhir Raja Sidabutar – penguasa Tomok, beberapa abad yang lalu.
Di makam tersebut, terdapat simbol-simbol raja, permaisuri, dan panglimanya. Ukiran kepala yang besar menyimbolkan sang raja, sedangkan ukuran kepala di ujung yang lain adalah simbol dari permaisurinya, Boru Damanik.
Dikisahkan bahwa Raja Sidabutar adalah raja sakti yang kekuatannya terhubung dengan rambut panjangnya yang gimbal. Lambang gajah yang mengapit dasar makam tersebut mewakili kisah tentang mahar yang ia bayarkan saat meminang Boru Damanik. Ketika itu, Raja Sidabutar diperintahkan untuk memberi mahar berupa gajah, hewan yang sulit didapat. Ia akhirnya mendapat gajah dari daerah lain, yakni Lampung dan Aceh.
Perajin Ulos
Komunitas tenun ulos Samosir terdapat di Desa Lumban Suhi-Suhi, Kecamatan Pangururan, Samosir. Lokasinya berjarak sekitar 4 kilometer dari Kota Pangururan. Di tempat ini, kamu bisa melihat langsung cara pengerjaan tenun ulos. Sehelai kain ulos dikerjakan selama sepekan. Kamu juga bisa beli ulos untuk oleh-oleh, harganya antara Rp 300.000 dan Rp 500.000, sesuai motif dan tingkat kesulitan.
Suka artikel ini? Yuk, share artikel ini ke teman-temanmu!
Shares News
-
20.57
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Unik dan Aneh : Nikmati sensasi tidur di dalam sarang burung raksasa!
Seorang seniman asal California berhasil membangun sebuah sarang burung raksasa untuk tempat tinggal manusia.
Jayson Fann sengaja mendesain rumah uniknya mirip sarang raksasa di mana seseorang bisa merasakan bagaimana rasanya tidur seperti burung. Terbuat dari cabang-cabang pohon yang diambil dari hutan, bangunan yang diberi nama Spirit Nests ini bisa dipesan di website Big Sur Spirit Garden, sebuah pusat seni dan budaya internasional di lembah Big Sur.
Photos: Jayson Fann/Facebook
Namun, bagi pengunjung yang tidak ingin membeli, mereka bisa menginap di satu-satunya sarang yang terbuka untuk umum di Resort Treebones, di pantai Big Sur. Meski demikian, sarang ini tidak benar-benar dapat menawarkan kenyamanan.
Selain tidak ada air, bangunan ini tidak memiliki fasilitas lainnya kecuali tempat tidur. Bahkan, jika hujan turun, Anda terpaksa harus memakai jas hujan agar tidak kebasahan. Sarang yang terbuat dari cabang-cabang pohon eucalyptus ini memiliki kapasitas 8 orang.
Sebagaimana ditulis di situs resmi Big Sur Spirit Garden, Jayson menjelaskan bahwa sarang itu terbuat dari cabang pohon yang diambil dari hutan setempat. Jayson memiliki rasa hormat terhadap pohon, sehingga dia lebih memilih cabang dan selalu memotong mereka dengan hati-hati untuk memastikan bahwa pohon-pohon itu tidak rusak.
Photos: Jayson Fann/Facebook
Cabang-cabang terbaik didapatkannya dari atas pohon karena dianggap telah matang dan kuat. Setelah mencabuti semua daun, cabang-cabang pohon itu kemudian dipindahkan ke lokasi yang aman. Cabang-cabang diurutkan sesuai dengan ukuran, lalu Jayson merakitnya untuk membuat pola spiral yang dirancang untuk integritas struktural dan estetika.
Setelah sarang mencapai ukuran tertentu, struktur itu diangkut ke lokasi tujuan dan ditempatkan di atas dasaran yang kuat dengan bantuan mobil derek. Jayson menambahkan sentuhan terakhir dengan menata interior kasur dan tangga untuk akses menuju sarang.
Tertarik untuk memesan? Jayson membanderol harga USD 4.000 sampai 20.000 (Rp 39-196 juta) untuk setiap pemesanan sarang raksasanya. Website ini juga memberitahukan bahwa semua hasil dari penjualan sarang akan digunakan untuk mensponsori Big Sur Spirit Garden, sebuah pusat seni dan budaya yang berlokasi di lembah Big Sur - yang berada di antara gunung Santa Lucia dan Samudera Pasifik.
Yuk lihat keunikannya di video ini!
merdeka
Shares News
-
02.05
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Sumatera : Air terjun Dua Warna "Sumatera Utara"
Tentang Air terjun Dua Warna
Air terjun Dua Warna merupakan salah satu wisata alam yang terletak di Desa Durin Sirugun, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Air terjun ini terbentuk akibat dari letusan Gunung Sibayak ratusan tahun silam dan sumber air terjun ini pun berasal dari Gunung Sibayak. Sesuai dengan namanya, air terjun ini memiliki dua warna, yaitu biru muda yang terdapat pada air yang turun dari atas dan putih keabu-abuan yang terdapat pada air yang tertampung di bawah.
Warna air yang dimiliki oleh air terjun ini dipengaruhi kandungan fosfor dan belerang yang terdapat di dalam airnya. Dengan adanya kandungan dua zat tersebut, air yang berada di lokasi Air Terjun Dua Warna ini dilarang untuk diminum. Jadi, jangan sekali-sekali mencoba untuk meminum air di lokasi obyek wisata yang satu ini ya. Cukup nikmati gradasi airnya yang cantik dan panorama sekitar yang masih asri sambil bermain air di obyek wisata Air Terjun Dua Warna ini.
Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 100 m ini berada di dalam hutan. Namun tak usah khawatir karena kita bisa menggunakan jasa pemandu lokal untuk menyusuri hutan menuju Air Terjun Dua Warna. Tarif sewa pemandu lokalnya berkisar antara Rp. 100.000-300.000, tergantung dari penawaran. Perjalanan menuju air terjun ini diawali dari pintu masuk utama bumi perkemahan Sibolangit yang kemudian dilanjutkan dengan trekking menyusuri hutan selama sekitar 2-3 jam. Jadi jika ingin berwisata ke tempat ini, pastikan kita mempunyai stamina yang cukup dan sebaiknya tidak berkunjung ke tempat ini pada musim penghujan karena jalan menuju lokasi air terjun menjadi licin serta tidak ada tempat untuk berteduh.
Akses ke Air terjun Dua Warna 
Dari Kota Medan, kita dapat menyewa kendaraan darat untuk menuju ke Kecamatan Sibolangit yang berjarak sekitar 75 km dan pastikan untuk menuju ke lokasi bumi perkemahan Sibolangit yang merupakan gerbang menuju lokasi Air Terjun Dua Warna.utiket.com
Shares News
-
01.54
Read More
Add your Comment
0
komentar
Taman Nasional Baluran "The Litle Afrika"
| Informasi Wisata | |
|---|---|
| Lokasi | Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. |
| Tiket | Rp 6.000.- per mobil dan Rp 2.500.- per orang. |
| Waktu Buka | 24 jam |
| Fasilitas/ Obyek Wisata | Pemandangan ala afrika |
Taman Nasional Baluran atau sering disebut Africa van Java terletak di Kabupaten Situbondo, dekat sekali dengan perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran.
Taman Nasional Baluran memiliki keindahan alam yang luar biasa, terutama hamparan padang sabana dan taman lautnya. Eksotika alam terbuka yang wilayahnya terletak di jalur utama Jawa-Bali itu menjadi alternatif wisata saat liburan, khususnya bersama keluarga. Padang sabana di Baluran luasnya sekitar 400 hektare yang berada di Blok Bekol. Di padang rumput yang luas itu, pengunjung bisa melihat sekawanan satwa, seperti rusa. Atau kalau malam hari bisa melihat kerbau dan banteng. Pemandangan paling menarik adalah sekumpulan burung merak di alam terbuka. Merak dikenal dengan keindahan bulunya saat dimekarkan.
Petualangan hebat yang dapat anda nikmati disini diantaranya:
- Mengamati satwa dari menara pandang Bekol. Letaknya di atas bukit kecil di belakang pos Bekol. Sebaiknya Anda ke tempat ini pada sore atau pagi hari karena saat itu satwa seperti rusa sedang asik-asiknya jalan-jalan atau mencari makan. Dari sini anda juga bisa mengamati sunset di balik Gunung Baluran atau sunrise Selat Bali lho. Ingat, kesini wajib bawa kamera untuk mengabadikan jika anda tidak ingin menyesal nantinya hehehe, kalo bisa sekalian pakai lensa tele supaya bisa menangkap gambar satwa yang nun jauh di savana.
- Bersafari malam di Savana Bekol, bisa dengan jalan kaki atau naik kendaraan. Demi keamanan sebaiknya memakai kendaraan, karena di sana masih banyak ular berkeliaran. Anda bisa melihat burung hantu, burung-burung malam yang suka berkumpul di tengah jalan, bisa melihat satwa seperti rusa di malam hari dari jarak dekat. Mata-mata mereka menyala terkena sorot lampu.
- Ini yang bikin Taman Nasional Baluran tempat wisata yang lengkap, karena disini ada olahraga air di Pantai Bama. Semakin siang lautnya semakin terlihat berwarna biru dan semakin jernih. Ada beberapa pilihan: berjemur, berkano, atau bersnorkeling. Tapi untuk bisa melihat karang yang indah dan ikan-ikan yang cantik kita harus berenang agak jauh dari bibir pantai. Tapi, masih aman karena lautnya dangkal.wisatapanorama.
Shares News
-
18.43
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Unik dan Aneh : Gua Tabuhan Pacitan
| Informasi Wisata | |
|---|---|
| Lokasi | Desa Wereng, Kecamatan Punung, Pacitan, Jawa Timur. |
| Tiket | Rp 4.000,- |
| Waktu Buka | 07.00 – 17.00 |
| Fasilitas/ Obyek Wisata | Musik Gamelan alam, keindahan Stalaktit dan stalagmit |
Gua Tabuhan merupakan salah satu gua yang memiliki keunikan tersendiri. Gua Tabuhan diambil dari bahasa jawa tabuhan yang mempunya arti alat musik yang dimainkan. Debur ombak atau kicauan burung merupakan musik alam yang sangat khas. Akan tetapi, di Gua Tabuhan, Anda akan mendengar alunan musik gamelan Jawa dari stalaktit dan stalagmit yang dimainkan para seniman. Letaknya berada di Dusun Tabuhan, Desa Wereng, Kecamatan Punung, Pacitan, dan berjarak sekitar 40 km dari Kota Pacitan.
Begitu masuk kedalam Gua Tabuhan, Anda harus melewati beberapa puluh anak tangga dan memasuki lubang gua yang besar. Sebelum masuk, sebaiknya Anda membaca peta dan sejarah gua ini di depan pintu masuknya. Anda juga bisa menyewa beberapa pemandu. Suasana yang gelap, licin dan lembab akan Anda rasakan seketika memasuki gua tersebut. Stalaktit dan stalagmitnya menghiasi Gua Tabuhan. Jalannya pun cukup licin, maka berhati-hatilah. Akan tetapi, di sana terdapat tiang dan juga cahaya penerangan yang memadai.
Berjalan lebih ke dalam, Anda dapat melihat keindahan serta keajaiban Gua Tabuhan. Di sanalah para seniman memainkan alunan musik gamelan Jawa. Tidak dengan gendang atau alat musik lainnya, tapi dengan memukul dan memainkan stalaktit dan stalagmit! Sungguh ajaib. Para seniman begitu syahdu memainkan stalaktit dan stalagmit yang seolah alat musik tersebut. Irama musik khas gamelan Jawa pun akan menambah rasa kagum Anda terhadap musik yang berasal dari alam.
Dengan membayar sekitar biaya sekitar Rp 100.000, Anda bisa mendengarkan alunan musik gamelan jawa tersebut. Para seniman akan memainkan sekitar 6 lagu dan Anda bisa dengan santai menikmatinya. Jangan lupa mengabadikan moment unik tersebut dalam kamera Anda. wisatapanorama.
Shares News
-
17.52
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Unik dan Aneh : Bledug Kuwu Kawah Lumpur di Kabupaten Grobogan
Bledug Kuwu adalah sebuah kawah lumpur (mud volcano) yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah. Tempat ini dapat ditempuh kurang lebih 28 km ke arah timur dari kota Purwodadi. Bledug Kuwu merupakan salah satu obyek wisata andalan di daerah ini, selain sumber api abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo. Obyek yang menarik dari bledug ini adalah letupan-letupan lumpur yang mengandung garam dan berlangsung terus-menerus secara berkala, antara 2 dan 3 menit.
Masyarakat Grobogan Purwodadi sudah tidak asing lagi akan adanya “bledhug kuwu“ tersebut, sebab obyek Bledhug Kuwu telah menjadi obyek wisata alam yang menarik di daerah tersebut. Keajaiban alam berupa “plembungan endhut“ yang meletus ( bledhug ) dengan suara letusan yang cukup keras ini memang benar – benar ajaib. Bledhug itu sepanjang zaman tidak putus – putusnya terjadi dilokasi tanah seluas kurang lebih 40 Ha. Bledhug itu ada yang sangat besar, bahkan ada yang sebesar rumah penduduk.
Menurut cerita tutur, bledhug itu terjadi karena ulah Jaka Linglung, Putra Aji Saka atau Prabu Jaka dari kerajaan Medang Kamulan.
Pada satu ketika Jaka Linglung yang berwujud ular naga itu disuruh Aji Saka atau Prabu Jaka membunuh Dewata Cengkar yang telah berubah rupa menjadi seekor buaya putih yang sangat besar, sebagai syarat untuk diakui sebagai anaknya. Jaka Linglung berangkat ke laut selatan tempat Dewata Cengkar bertahta. Dia tidak sabar melalui darat, maka dia melalui dalam tanah, jalan yang dilalui oleh Jaka Linglung itu akhirnya berubah menjadi “tanah lendhut“ Bledhug yang terjadi adalah nafas Jaka Linglung selama dalam perjalanan itu. Jadi menurut kepercayaan orang, ada hubungan bledhug itu dengan laut selatan.
Kenyataan sampai sekarang, air dari bledhug itu mengandung garam dan ditambang oleh penduduk sekitarnya sebagai tambang garam yang diambil dari air bledhug tersebut.
Selanjutnya cerita Jaka Linglung menurut cerita Aji saka, adalah sebagai berikut : Dalam serat primbon Jayabaya ( hal. 23 – 24 ) terdapatlah pasal yang menyebutkan tentang perginya Prabu Esaka dalam bab V Piwulang Dewa, yang berbunyi:
Pun Jaka sengkala anakipun Empu Anggejali, patutan saking Dewi Saka, Putranipun Raja Sarkil ing pulo Najran Sareng Jaka Sengkolo jumeneng nata, jejuluk Sang Aji Saka jengkar saking negaripun lajeng Nga Jawi, tanpo wonten ing redi kandha ( kendeng ? ) tlatah banyuwangi jejuluk Empu Sengkala. Anuju ing Surya Adam, tahun 5164, Chandra 5316, Empu Sengkala macak titimangsa tahun jawi : kaeteng tahun Candra – Sengkala I Warsa. Tahun Rum anuju angka 444 warsa. Tahun Adam tahun Surya 5161 warsa. Tahun Masehi 78 jumenengan nata.
Shares News
-
22.00
Read More
Add your Comment
0
komentar






