Wisata Religi di Yogyakarta, 4 Masjid Batas "Negoro"




Masjid kauman, masjid keraton
Pathok dalam bahas jawa mempunyai arti tonggak penanda tapal batas, sehingga pathok negoro merupakan satu penanda tapal batas suatu Negara atau kerajaan saat itu. Bangunan pathok negoro bagi kasultanan Yogyakarta bermula ketika Sultan Hamengku Buwono I berguru kepada seorang ulama bernama Kyai Muhammad Faqih. Beliau menasehatkan agar Sultan mengangkat pathok pathok negoro, namun yang dimaksud pathok negoro tersebut adalah para ulama yang memberikan ajaran serta menuntun akhlak dan budi pekerti dan setiap pathok tersebut diberikan anah perdikan.


Akhirnya Kyai Muhammad Faqih yang tidak lain masih merupakan kakak ipar Sultan Hamengku Buwono I, diangkat sebagai kepala pathok pada tahun 1701 dan diberikan tanah perdikan yang berupa alas awar awar yang kemudian didirikan masjid, tempat ini kemudian di beri nama Wa Anna Karoma yang berarti agar mulya sungguh sungguh, namun karena pelafalan masyarakat setempat menjadi Wonokromo.
Inilah masjid masjid pathok negoro yang ada menyebutnya sebagai Kiblat Papat Lima Pancer :
1. Masjid Taqwa Wonokromo
masjid taqwa, masjid wonokromo
Masjid Taqwa Wonokromo berada di wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, keberadaanya yang di dekat tempuran sungai opak dan oya cukup jauh dari keramaian kota yang menambah kekhusukan saat menjalankan ibadah. Menempati tanah putih seluas 5000 meter persegi dengan luas bangunan saat didirikan seluas 420 meter persegi dan setalah dilakukan pengembangan hingga saat ini menjadi 750 meter persegi. Bagian serambi masjid seluas 250 meter persegi, ruang perpustakaan seluas 90 meter persegi dan halaman seluas 4000 meter persegi.



2. Masjid Sulthoni Plosokuning
ploso kuning, masjid
Masjid Sulthoni Plosokuning berada di Jl. Plosokuning Raya No. 99, desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan menempati area sebesar 2.500 meter persegi tanah milik kasultanan Yogyakarta, dengan luas bangunan seluas 288 meter persegi pada saat dibangun dan mengalami pengembangan hingga saat ini menjadi 328 meter persegi. Masjid Sulthoni Plosokuning sendiri dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono III yang merupakan ayahanda P. Diponegoro, yaitu ketika Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) menjadi abdi dalem keraton Kasultanan.



3. Masjid Jami’ An-Nur Mlangi
masji mlangi, pathok negara
Masjid Jami’ An-Nur Mlangi terletak di dusun Mlangi, desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang masuk dalam desa wisata Mlangi. Masjid ini menempati area seluas seribu meter persegi milik Kasultanan Yogyakarta. Dengan luas yang terbagi dalam beberapa ruangan, ruangan utama sebesar 20 x 20 meter persegi, serambi masjid 12 x 20 meter,  ruang perpustakaan 7 x 7 meter persegi, persegi, serta luas halaman sebesar 500 meter persegi. Bangunan Masjid berada pada tanah yang lebih rendah daripada tanah lain disekitar  masjid, sehingga anda akan melewati beberapa anak tangga yang ada di gapura.



4. Masjid Nurul Huda Dongkelan
masjid nurul huda, pathok negoro
Masjid Nurul Huda Dongkelan terletak di desa Kauman, dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini dibangun pada tahun 1775, yang digunakan sebagai tempat ibadah dan sekaligus benteng pertahanan. Dan yang ditugaskan untuk menjadi penghulu untuk mengelola masjid ini adalah Kyai Syihabudin. Seorang yang memenangkan sayembara dimana Pangeran Mangkubumi mencari seorang pengawal yang mempunyai kesaktian tinggi.




5. Masjid Ad-Dorojatun Babadan
masjid babadan, pathok negoro
Masjid Ad Dorojatun Babadan terletak di desa Babadan, kecamanatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini mudah ditemukan karena letaknya tidak jauh dari jalan besar. Dari Kebun Binatang Gembira loka menuju arah timur, perempatan gedongkuning kekiri lurus hingga ada pohon beringin lurus aja terus diujung jalan tersebut keberadaan Masjid Ad Dorojatun Babadan.Masjid Ad-Dorojatun merupakan salah satu masjid Pathok Negoro yang dibangun oleh Keraton. Masjid ini sendiri dibangun pada tahun 1774 oleh Sultan Hamengku Buwono I  dengan arsitektur sama dengan masjid pathok negoro. yogyakarta. panduanwisata.





Description: Wisata Religi di Yogyakarta, 4 Masjid Batas "Negoro" Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Wisata Religi di Yogyakarta, 4 Masjid Batas "Negoro"


Shares News - 15.00
Read More Add your Comment 0 komentar


Mengagumi Keindahan Arsitektur Masjid Menara Kudus





Pernah mendengar nama Masjid Al Aqsa di kota Kudus? Mungkin sedikit yang pernah mendengarnya. Tapi jika pertanyaan dirubah, pernah mendengar nama Masjid Menara Kudus? Aku yakin kali ini cukup banyak yang akan mengacungkan jarinya. Padahal sejatinya Masjid Al Aqsa Kudus dan Masjid Menara Kudus adalah nama dari masjid yang sama, hanya saja memang nama Masjid Menara Kudus lebih populer.
Long weekend bulan yang lalu, kami berkesempatan untuk berkunjung ke Masjid yang penuh dengan nilai sejarah ini, kala bersilaturahmi ke rumah saudara di Kudus. Konon berkunjung ke Kudus kurang lengkap kalau belum mampir ke Masjid Menara Kudus.
Masjid Menara Kudus ini adalah salah satu masjid tertua di pulau Jawa dan merupakah salah satu masjid yang mempunyai peranan penting dalam penyebaran islam di pulau jawa. Didirikan pada abad 16 Masehi, tepatnya tahun 1549 oleh Jafar Sodhiq atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus (kompasiana). Lokasi Masjid Menara Kudus ini tidak jauh dari pusat kota kudus dan relatif sangat mudah menemukannya. Hanya berjarak kurang dari 1 km sebelah barat alun-alun kota Kudus.
Bagian paling menarik dari Masjid Kudus tentu saja menaranya yang terbuat dari batu bata merah dan sekilas mirip dengan candi hindu (candi-candi peninggalan kerajaan majapahit di trowulan). Bagi yang belum pernah melihat Menara ini sebelumnya, pasti tidak menyangka bahwa itu adalah menara masjid. Banyak sekali perdebatan apakah menara tersebut adalah peninggalan kerajaan hindu yang sengaja dilestarikan oleh Sunan Kudus, atau memang dibangun sendiri oleh Sunan Kudus. 
Yang pasti, kala Sunan Kudus datang ke pulau Jawa, tepatnya di kota kudus, masyarakatnya saat itu banyak yang memeluk agama Hindu. Tapi, meski mempunyai bentuk yang mirip candi hindu, tidak ditemukan arca ataupun ukiran yang merupakan ciri khas candi. Dinding menara justru dihiasai aneka piring cantik, yang konon berasal dari negeri China. Sebuah karya seni masjid yang sangat unik dan bercita rasa tinggi.
Dibelakang Masjid, terdapat makam Sunan Kudus yang selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah setiap harinya. Dan kala kami berkunjung ke Masjid Menara Kudus pagi itu, suasana juga sudah sangat ramai dan padat. Untuk bisa mengabadikan foto masjid yang sangat artistik ini, aku harus berdesak-desakan dengan para peziarah yang terus menerus mengalir berdatangan. Kala beberapa saat suasana agak sepi, eh aku harus bersaing dengan para fotografer wisata yang tengah berburu rejeki. 
Beberapa kali kami ditegur mereka untuk minggir karena dianggap merusak pemandangan masjid yang akan digunakan sebagai background foto para pelanggan mareka. Kami pun cuma bisa minta maaf sambil meringis, he he he. Ya bagaimanapun juga, memotret adalah sumber pencaharian buat mereka, jadi kami harus maklum. 
Pulang dari Masjid, jangan lupa untuk membeli jenang, yang merupakan oleh-oleh khas kota Kudus. Sempatkan juga untuk menicicipi sedapnya kuliner khas kota kudus, yakni Soto Kudus dan Garang Asem. Dijamin, pulang dari kudus, berat badan akan bertambah.wongkentir.
Description: Mengagumi Keindahan Arsitektur Masjid Menara Kudus Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Mengagumi Keindahan Arsitektur Masjid Menara Kudus


Shares News - 17.49
Read More Add your Comment 0 komentar