Wisata Sumatra : Empat Wisata Samosir yang Unik
Ke Danau Toba, belum lengkap kalau tidak mampir ke Samosir. Pulau berhawa sejuk yang terletak di tengah-tengah danau terluas Asia Tenggara tersebut memiliki adat Batak yang kental dan kuliner berbahan dasar ikan danau yang menggoyang lidah. Pengen liburan ke Samosir? Pastikan kamu tahu wisata-wisata seru yang bisa kamu nikmati di sana.
Sigale-gale
Awalnya tampil di upacara pemakaman, sekarang boneka menari sigale-gale lebih sering ditampilkan untuk hiburan wisata. Di Pulau Samosir, ada dua tempat yang bisa dipilih untuk melihat pertunjukkan sigale-gale, yakni Huta Bolon dan Huta Simanindo.
Boneka ini terbuat dari kayu beringin, yang diukir dan dihias lagi dengan kostum tradisional seperti turban merah, kemeja hitam longgar, dan sarung biru. Sigale-gale lalu ditancapkan pada sebuah kotak kayu panjang, yang mengatur gerakan boneka supaya tampak menari mengikuti musik yang mengalun.
Sejarah sigale-gale tidak lepas dari cerita tentang kesedihan Raja Harahap yang kehilangan putra kesayangannya, Manggale. Ia tewas saat kerajaan tersebut berperang guna memperluas wilayah. Untuk mengobati dukanya, rakyat membuat patung yang menyerupai Manggale. Saat raja rindu dengan anaknya, ia akan menggelar pesta tari sigale-gale. Raja Harahap memanggil dukun untuk membuat sigale-gale bergerak. Tujuh hari lamanya, boneka tersebut terus menari diiringi musik tradisional togading. Setelah boneka tersebut berhenti menari, boneka tersebut dipasangi tali supaya bisa bergerak secara mekanis.
Rumah Bolon
Pulau Samosir diyakini sebagai daerah asal dari etnik Batak Toba. Untuk melihat rumah adat Batak Toba, wisatawan bisa berkunjung ke Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Samosir, Sumatra Utara. Di tempat ini, kamu bisa melihat rumah adat yang kondisinya masih terjaga dengan baik. Rumah tradisional yang disebut Rumah Bolon tersebut berbentuk rumah panggung dengan konstruksi kayu tanpa paku. Ciri lain, atapnya terbuat dari serat nira, kemudian atap belakangnya lebih tinggi dari atap depan.
Rumah adat Batak Toba di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Samosir, Danau Toba. Foto: Antara/Irsan Mulvadi
Makam Tua Raja Sidabutar
Salah satu daya tarik lain dari Pulau Samosir adalah Makam Tua Raja Sidabutar di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo. Makam tersebut dipahat dari batu utuh, tanpa sambungan, dan menjadi peristirahatan terakhir Raja Sidabutar – penguasa Tomok, beberapa abad yang lalu.
Di makam tersebut, terdapat simbol-simbol raja, permaisuri, dan panglimanya. Ukiran kepala yang besar menyimbolkan sang raja, sedangkan ukuran kepala di ujung yang lain adalah simbol dari permaisurinya, Boru Damanik.
Dikisahkan bahwa Raja Sidabutar adalah raja sakti yang kekuatannya terhubung dengan rambut panjangnya yang gimbal. Lambang gajah yang mengapit dasar makam tersebut mewakili kisah tentang mahar yang ia bayarkan saat meminang Boru Damanik. Ketika itu, Raja Sidabutar diperintahkan untuk memberi mahar berupa gajah, hewan yang sulit didapat. Ia akhirnya mendapat gajah dari daerah lain, yakni Lampung dan Aceh.
Perajin Ulos
Komunitas tenun ulos Samosir terdapat di Desa Lumban Suhi-Suhi, Kecamatan Pangururan, Samosir. Lokasinya berjarak sekitar 4 kilometer dari Kota Pangururan. Di tempat ini, kamu bisa melihat langsung cara pengerjaan tenun ulos. Sehelai kain ulos dikerjakan selama sepekan. Kamu juga bisa beli ulos untuk oleh-oleh, harganya antara Rp 300.000 dan Rp 500.000, sesuai motif dan tingkat kesulitan.
Suka artikel ini? Yuk, share artikel ini ke teman-temanmu!
Shares News
-
20.57
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Sumatera : Air terjun Dua Warna "Sumatera Utara"
Tentang Air terjun Dua Warna
Air terjun Dua Warna merupakan salah satu wisata alam yang terletak di Desa Durin Sirugun, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Air terjun ini terbentuk akibat dari letusan Gunung Sibayak ratusan tahun silam dan sumber air terjun ini pun berasal dari Gunung Sibayak. Sesuai dengan namanya, air terjun ini memiliki dua warna, yaitu biru muda yang terdapat pada air yang turun dari atas dan putih keabu-abuan yang terdapat pada air yang tertampung di bawah.
Warna air yang dimiliki oleh air terjun ini dipengaruhi kandungan fosfor dan belerang yang terdapat di dalam airnya. Dengan adanya kandungan dua zat tersebut, air yang berada di lokasi Air Terjun Dua Warna ini dilarang untuk diminum. Jadi, jangan sekali-sekali mencoba untuk meminum air di lokasi obyek wisata yang satu ini ya. Cukup nikmati gradasi airnya yang cantik dan panorama sekitar yang masih asri sambil bermain air di obyek wisata Air Terjun Dua Warna ini.
Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 100 m ini berada di dalam hutan. Namun tak usah khawatir karena kita bisa menggunakan jasa pemandu lokal untuk menyusuri hutan menuju Air Terjun Dua Warna. Tarif sewa pemandu lokalnya berkisar antara Rp. 100.000-300.000, tergantung dari penawaran. Perjalanan menuju air terjun ini diawali dari pintu masuk utama bumi perkemahan Sibolangit yang kemudian dilanjutkan dengan trekking menyusuri hutan selama sekitar 2-3 jam. Jadi jika ingin berwisata ke tempat ini, pastikan kita mempunyai stamina yang cukup dan sebaiknya tidak berkunjung ke tempat ini pada musim penghujan karena jalan menuju lokasi air terjun menjadi licin serta tidak ada tempat untuk berteduh.
Akses ke Air terjun Dua Warna 
Dari Kota Medan, kita dapat menyewa kendaraan darat untuk menuju ke Kecamatan Sibolangit yang berjarak sekitar 75 km dan pastikan untuk menuju ke lokasi bumi perkemahan Sibolangit yang merupakan gerbang menuju lokasi Air Terjun Dua Warna.utiket.com
Shares News
-
01.54
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Sumatera : Jam Gadang "Sumatra Barat"
Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar".
Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.
Struktur
Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.
Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih. Keunikan dari Jam Gadang sendiri adalah pada kesalahan penulisan angka Romawi empat (IV) pada masing-masing jam yang tertulis "IIII". Kesahalan penulisan tersebut juga sering terjadi di belahan dunia, seperti angka 9 yang ditulis "VIIII" (seharusnya IX) ataupun angka 28 yang ditulis "XXIIX" (seharusnya XXVIII).
Sejarah
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol kota Bukittinggi.
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk klenteng. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.
Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan kedutaan besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.
Shares News
-
02.18
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Sumatera : Jelajah Pulau Mentawai Siberut
Kepolosan anak-anak Mentawai dalam bercengkrama dengan alam
Pulau Mentawai Siberut menawarkan berbagai wisata eksotis ke beberapa wilayah terpencil di Indonesia termasuk penjelajahan rimba di jantung Pulau Siberut yang berada di luar pesisir Sumatera Barat.
Pengunjung berkesempatan untuk bertemu langsung dengan penduduk asli Siberut, klan pemburu-pengumpul tradisional yang sedang menjalin hubungan dengan dunia modern untuk pertama kalinya. Anda akan tinggal di sana sebagai tamu di uma atau rumah dukun setempat yang disebut kerei.
Untuk mencapai Mentawai, Anda bisa terbang ke padang dengan Pesawat, dan naik bus ke Pelabuhan Bungus. Kapal Ambu-Ambu berangkat dari Pelabuhan Bungus Padang ke Siberut setiap hari Senin dan Kamis pukul 17.00 WIB. Pada hari Jumat dan Minggu, Kapal Ambu-Ambu berangkat pukul 20.00 WIB dari Pelabuhan Bungus Padang ke Tua Pijat Sipora.
Alternatif lainnya, pada hari Selasa dan Kamis, Anda bisa terbang ke Mentawai dengan pesawat kecil yang dapat disewa, berangkat dari Bandara Minangkabau pukul 22.00 WIB yang lama perjalanannya sekitar satu jam. Setelah itu, Anda dapat menyewa kapal pribadi dengan harga mulai dari 7 sampai 14 juta rupiah.
garuda-indonesia.com
Shares News
-
01.03
Read More
Add your Comment
0
komentar
Wisata Sumatera : Menelusuri Jalur Singkarak
Jalur tempuh resmi Tour de Singkarak
Anda tidak harus menjadi atlet sepeda jika ingin merasakan ‘Tour de Singkarak’. Pertama, kendarai sepeda Anda dan terobos kota Padang yang ramai, dengan Taman Budaya sebagai titik awal dan akhir perjalanan.
Kemudian, setelah istirahat sebentar, jelajahi rute Padang bukittinggi sepanjang 88,2 km dan berhenti di Jam Gadang, ikon wisata Bukittinggi.
Tour de Singkarak yang sebenarnya meliputi rute yang sangat menantang pada tingkat ketiga. Pada tingkat 3A, para pengendara sepeda mulai dari Bukittingi dan melewati sawah kearah wilayah tambang Sawahlunto yang terkenal dan kemudian ke Danau Singkarak di Solok. Para atlet diuji kemampuannya melewati jalanan yang berliku dan curam, dan masih harus melalui sekitar setengah keliling Danau Singkarak yang tenang.
Pada tingkat ke-4, para peserta masih harus menghadapi tantangan yang lebih berat, dengan rute yang mengelilingi Danau Singkarak yang luas, berkendara di antara danau kembar dan kembali mengelilingi Danau Singkarak satu kali lagi dengan jarak tempuh hingga 188,8 km.
Selagi Anda berwisata sendiri, jangan ragu untuk berhenti kapan saja dan nikmati lansekap indah yang ada di Sumatera Barat. Pemandangannya luar biasa. Dan berada di luar sambil bersepeda di temani angin yang bertiup, apa lagi yang kurang? garuda-indonesia.com
Shares News
-
00.42
Read More
Add your Comment
0
komentar

