Wisata Unik dan Aneh : Kakadu, Sensasi Galeri Alam Terbesar Australia




Bagi peyuka wisata petualangan, Anda harus memanjakan mata dan rasa dengan pemandangan yang menakjubkan ini. Terbang ke Australia bagian Utara. Salah satu situs warisan dunia UNESCO, yang paling banyak mencuri perhatian adalah 'Kakadu National Park', sekitar 170 kilometer dari Darwin.
Saat mendaratkan kaki di area seluas 19.804 kilometer persegi ini Anda pasti langsung terhipnotis. Peninggalan sejarah, termasuk galeri seni kuno, hutan lebat, serta tebing-tebing curam disetiap sudut hutan menjelma sebagai pemandangan fantastis. 
Kakadu National Park
Taman nasional ini dikelola langsung oleh masyarakat Aborigin, yakni suku Bininj atau Mungguy. Alamnya terlihat seperti galeri tebing basar. Sebagian tebing disana juga dipahat oleh leluhur masyarakat Aborogin menjadi ornamen ukiran. Ada pula jejak tangan hewan, pemburu, rumah, dan perkakas batu yang digunakan suku asli Australian ini. Anda dapat mempelajari setiap jengkal kehidupan sosial dan kebudayaan mereka secara langsung.
Untuk mengelilingi taman nasional ini Anda dapat menggunakan jeep atau jasa helikopter yang disediakan. Sensasi dari udara tentunya lebih dasyat. Udara segar diatas, dan pepohonan hijau yang dilalui sungai-sungan kecil di bawahnya.  
Kakadu National Park
Lebih dari 280 spesies burung yang hidup berdampingan di taman nasional ini, seperti burung magpie gesse, brola, jabiru, dan burung jacana, serta elang laut berperut putih. Anda juga dapat melihat dan menyusuri  tebing-tebing tinggi dengan lubang besar di Taman Nasional Nitmuluk yang masih satu area dengan Kakadu.
Satu lagi aktivitas yang bisa menjadi pengalaman tak terlupakan. Menyusur sungai Katherine dengan kano. Atau berendam di kolam renang alami yang menjadi tujuan akhir para petualang. life.viva.co.id
Description: Wisata Unik dan Aneh : Kakadu, Sensasi Galeri Alam Terbesar Australia Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Wisata Unik dan Aneh : Kakadu, Sensasi Galeri Alam Terbesar Australia


Shares News - 05.40
Read More Add your Comment 0 komentar


Wisata Sumatera : Jembatan Barelang




Jembatan Barelang (singkatan dari BAtam, REmpang, dan gaLANG) adalah nama jembatan yang menghubungkan pulau-pulau yaitu : Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Masyarakat setempat menyebutnya "Jembatan Barelang", namun ada juga yang menyebutnya "Jembatan Habibie", karena beliau yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Ketiga pulau itu sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Riau.

Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru

Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru

Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru

Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru

Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru



Description: Wisata Sumatera : Jembatan Barelang Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Wisata Sumatera : Jembatan Barelang


Shares News - 20.51
Read More Add your Comment 0 komentar


Jogjakarta Turism Maps




Keterangan : Untuk peta diatas hanya lokasi wisata yang termasuk dalam kawasan kota jogja serta sebagian wisata Kab. Sleman dan Kab. Bantul, belum termasuk lokasi-lokasi wisata lain seperti di, Kab.Gunungkidul dan Kulon Progo.

Description: Jogjakarta Turism Maps Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Jogjakarta Turism Maps


Shares News - 22.31
Read More Add your Comment 0 komentar


Peta Wisata Yogyakarta





Keterangan : Untuk peta diatas hanya lokasi wisata yang termasuk dalam kawasan kota jogja serta sebagian wisata Kab. Sleman dan Kab. Bantulbelum termasuk lokasi-lokasi wisata lain seperti di, Kab. Gunungkidul dan Kulon Progo. Semoga Bermanfaat. 


Description: Peta Wisata Yogyakarta Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Peta Wisata Yogyakarta


Shares News - 17.23
Read More Add your Comment 0 komentar


Liburan di Kepulauan Rempah Banda




Vasco da Gama berkeliling Tanduk Afrika – sebutan untuk daerah di semenanjung Afrika Timur, Christopher Columbus mendarat di ‘Dunia Baru’ alias Benua Amerika, dan anak buah Ferdinand Magellan menjadi yang pertama mengelilingi dunia. Tiga petualang besar bangsa Eropa tersebut sesungguhnya memulai petualangan mereka demi mencari ‘harta karun’ yang terletak di Indonesia, yaitu daerah penghasil rempah Ternate, Tidore, dan kepulauan Banda.
Cakalele Bandanaira
Penari Cakalele. Foto: Clara Rondonuwu
Ternate dan Tidore tentu akrab di telinga wegonesia. Apalagi, satu-dua tahun terakhir backpackeryang keranjingan island hopping rajin menyebut dua tempat liburan eksotis di Maluku Utara tersebut di akun sosial media. Tetapi Banda, sayangnya hanya segelintir wisatawan yang paham dan pernah menginjakkan kaki di surga rempah tersebut.
Kepulauan Banda berjarak sekitar 140 kilometer tenggara Kota Ambon, Maluku. Luas kawasannya hanya sekitar 50 kilometer persegi. Jika Anda membolak-balik lembaran sejarah, barulah Anda paham betapa terkenalnya kepulauan tersebut di kalangan penjelajah Eropa.
Kepulauan Banda
Pulau Gunung Api, kepulauan Banda. Foto: Clara Rondonuwu
Sampai abad ke-19, kepulauan Banda merupakan daerah penghasil pala nomor satu (dan satu-satunya). Pada masa itu, harga pala di pasar Eropa tidak ternilai. Itu sebabnya Eropa mulai berusaha mengendus sumber rempah yang satu ini. Mereka menduga pala berasal dari daerah Timur Jauh. Sayangnya, para pedagang Arab yang menjual pala dengan harga selangit kepada pengepul di Venesia, mengunci mulut rapat-rapat. Mereka sangat merahasiakan lokasi sumber pala mereka.
Tak satupun orang Eropa yang berhasil menebak posisi persis dari surga rempah Banda, sampai pada tahun 1511 Alfonso de Albuquerque menaklukan Selat Malaka untuk Raja Portugis. Alburquerque mengirim tiga kapal untuk berlayar ke jurusan timur mencari surga rempah tersebut. Kapal-kapal pun mengarungi samudera, melewati Nusa Tenggara lalu putar haluan ke utara dan menemukan Banda.
Setelah masa perburuan rempah usai, Banda tetap memendam ‘harta karun’. Penyelam-penyelam tangguh dari berbagai belahan dunia datang ke tempat ini untuk menikmati harta karun Banda yakni taman laut yang sehat dan perairan sejernih kristal yang menawarkan petualangan bawah laut kelas dunia.
Kepulauan Banda merupakan salah satu spot penyelaman terbaik di dunia. Palung dalam, dinding bawah laut terjal, dan ikan-ikan besar di perairan Banda menawarkan pengalaman menyelam yang langka.
Kalau Anda berlibur ke kepulauan ini pada April atau Oktober, jangan lewatkan juga serunya balap kora-kora (sejenis lomba perahu naga) antarkampung yang biasa digelar di perairan antara Pulau Bandanaira dan Pulau Gunung Api.
Kepulauan Banda juga punya banyak bangunan bersejarah, antara lain Fort Belgica, Fort Nassau, Fort Hollandia, dan Fort Concordia. Dari atas benteng-benteng peninggalan tentara kolonial tersebut, wisatawan bisa menikmati pemandangan indah pulau-pulau sekitar. Ada pula museum menarik, yaitu Rumah Budaya yang menyimpan lusinan barang antik dan lukisan bersejarah, serta museum di bekas rumah pembuangan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir.
Rumah Budaya Banda
Koleksi uang kuno di Rumah Budaya, museum yang terletak di kepulauan Banda. Foto: Clara Rondonuwu
Wisatawan yang suka hiking dapat menguji stamina mereka di Pulau Gunung Api, sebuah gunung api setinggi 650 meter di atas permukaan laut. Untuk mendaki gunung yang terjal ini, wisatawan harus mulai mendaki dari pukul 5.30. Titik start yaitu stasiun pemantau gunung api, dari lokasi tersebut pemandu akan membimbing Anda melewati rute mudah sampai ke puncak.
Jika Anda tetap berjalan di jalur reguler, Anda akan sampai di puncak Gunung Api pada pukul 8.00. Saat langit cerah, dari puncak Gunung Api wisatawan dapat menikmati pemandangan kawah dan perkebunan kayu manis.
Siap angkat koper ke kepulauan Banda? Kalau iya, sebelum memulai perjalanan pilih musim yang tepat untuk berada di sana. Perairan Banda mulai tenang sekitar bulan Oktober-Desember dan Maret-Mei. Musim hujan berakhir antara pertengahan Juni dan Agustus. Sedangkan musim angin barat, alias selama periode ini angin bertiup kencang, berlangsung antara Juli dan Agustus. Selama periode tersebut, wisatawan sulit menikmati berbagai wisata bahari
Description: Liburan di Kepulauan Rempah Banda Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Liburan di Kepulauan Rempah Banda


Shares News - 04.19
Read More Add your Comment 0 komentar


Wisata Jogja : Jogja istimewa di bulan Januari






Kereta Kencana Kraton Yogyakarta
Kereta Kencana yang ditampilkan pada acara Pameran Kraton Yogyakarta di Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Januari adalah bulan yang tepat untuk mengunjungi Yogyakarta. Sebab, di bulan ini sedang berlangsung pameran besar koleksi  Keraton Nyayogyakarta dan Pameran Arsip “Jogja Istimewa, Istimewanya Jogja” di kompleks Keraton Yogyakarta.
Pameran Keraton Yogyakarta menampilkan sejumlah koleksi keraton, termasuk alat transportasi berupa Kereta Kencana yang termahsyur. kereta-kereta ini berusia tua, bahkan ada yang hingga ratusan tahun. Dulunya, Sri Sultan menggunakan Kereta Kencana untuk berbagai keperluan, baik kepentingan pribadi maupun kepentingan keraton.
Mobil dinas Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Mobil dinas Sri Sultan Hamengkubuwono IX sewaktu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
Total kereta kencana yang dimiliki oleh pikah keraton sebanyak 23 buah, namun tak seluruhnya dipamerkan di sini. Sisanya terparkir rapi di Museum Kereta Keraton yang berada di kompleks Ndalem Keraton Nyayogyakarta. Sebelum diresmikan sebagai museum, dulunya tempat ini adalah garasi bagi kereta-kereta tersebut.
Selain Kereta Kencana, turut ditampilkan pula mobil dinas yang dulu digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sewaktu maish menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Pameran Keraton Yogyakarta berlangsung hingga 24 Januari 2013.
Keraton Ngayogyakarto berlokasi di  Jalan Rotowijayan 1, dan buka pada hari Sabtu hingga Kamis pukul 08:00 – 14:00 WIB, dan hari Jumat pukul 08:00 – 12:00.
Selain pameran koleksi keraton, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga menggelar pameran arsip yang berlangsung pada 12 – 24 Januari 2013 di Bale Angun-Angun Sitihinggil Keraton Yogyakarta.
Selain itu, turut ditampilkan pula foto-foto hasil reproduksi arsip BPAD DIY, Arsip Nasional Republik Indonesia, koleksi Keraton Ngayogyakarta, dan Puro Pakualaman.
Naskah Perjanjian Giyanti
Naskah Perjanjian Giyanti (1755)
Pameran arsip tahun ini bertajuk “Jogja Istimewa, Istimewanya Jogja”. Berbagai arsip sejarah dan Budaya Yogyakarta dalam bentuk foto, tekstual, dan audiovisual dipamerkan di sini.
Salah satunya merupakan dokumentasi tekstual geopolitik Perjanjian Giyanti yang mengatur tentang pembagian Mataram menjadi wilayah Kasultanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian yang terdiri dari 9 pasal dan satu bagian penutup ini merupakan cikal bakal lahirnya Yogyakarta.
Arsip perjuangan masyarakat demi mendapatkan pengesahan atas status keistimewaan Yogyakarta juga turut ditampilkan dalam pameran arsip tahun ini.
Pameran dibuka setiap hari pada pukul 09:00 – 13:00, dan pukul 17:30 – 22:00. Pengunjung dikenakan bea masuk sebesar Rp 5000 saja.
Jika Anda peminat sejarah dan budaya, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, Januari adalah bulan yang tepat untuk menyambangi kota gudeg ini. (wego.com).
Description: Wisata Jogja : Jogja istimewa di bulan Januari Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Wisata Jogja : Jogja istimewa di bulan Januari


Shares News - 03.50
Read More Add your Comment 0 komentar


Mengintip Koleksi Museum Tertua di Indonesia




Museum memang identik dengan benda-benda jadul dan kuno, sehingga banyak dari kita yang kurang berminat untuk mengunjunginya. Padahal dengan berkunjung ke museum, kita akan lebih tahu akan berbagai hal khususnya yang berkaitan dengan sejarah masa lampau.  Terlebih jika yang kita kunjungi merupakan musim tertua di Indonesia. Pasti benda-benda koleksinyapun juga banyak yang sudah berusian ratusan tahun. Yah, museum tersebut tak lain adalah Museum Radya Pustaka.
1348041009145236766
Museum Tertua di Indonesia
Museum Radya Pustaka terletak di Jalan Slamet Riyadi (tak jauh dari THR Sriwedari) Surakarta. Museum yang konon merupakan museum tertua di Indonesia tersebut didirikan pada tanggal 20 Oktober 1890 M (tepatnya hari Slasa Kliwon tg. 15 Mulud EHE 1900) atau lebih kurang 122 tahun yang lalu oleh KRA Sosrodiningrat IV. Pada awalnya museum ini berada di salah satu ruang di kediaman Beliau di Kepatihan, namun atas prakarsa Sri Susuhunan Paku Buwana X museum dipindahkan ke Loji Kadipolo (yang menjadi lokasi museum sekarang ini) yang dibeli oleh PB X dari seorang warga negara Belanda bernama Johannes Busselaar.
13480425711221798578
Bagian depan museum 
13480426061235480014
Arca dan lumpang batu di bagian depan museum
Beberapa waktu lalu museum ini sempat menjadi buah bibir, manakala arca-arca batu koleksi museum dicuri oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Toh pada akhirnya arca-arca yang dinyatakan hilang tersebut berhasil ditemukan di Belanda dan berhasil dikembalikan seperti sediakala. Ternyata meskipun sudah tua museum ini memiliki banyak keistimewaan ya. Yuk kita lihat ke dalamnya!
13480432661416134571
Pintu utama museum
13480433051565735970
Bagian teras museum
1348043864311019313
Batu Peringatan di teras
Di depan museum terdapat sebuah patung Ronggowarsito (salah satu pujangga beken di tlatah Jawa). Patung ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 11 Nopember 1953. Sebelum mencapai gedung museum, berjejer arca-arca dan lumpang-lumpang batu berbagai ukuran.  Untuk masuk ke dalam gedung museum, dikenakan karcis masuk yang terbilang sangat murah (Rp. 2.500,- per orang). Dibagian teras gedung terdapat arca-arca dan meriam kuno peninggalan jaman Belanda, dan juga batu peringatan yang menempel di dinding.
13480437591567332964
Patung KRA Sosrodiningrat IV 
1348043977456742413
Ruang pertama museum
Begitu melewati pintu utama, kita akan langsung melihat patung KRA Sosrodiningrat IV (pendiri museum) di bagian tengah ruangan. Sedangkan dibagian kiri dan kanan terdapat seperangkat meja kursi tua, dengan lemari-lemari kaca yang menyimpan berbagai koleksi wayang. Di belakangnya terdapat lorong dengan ruangan di bagian kiri dan kanannya. Di lorong sini terdapat beberapa koleksi senjata tajam seperti keris dan tombak dan juga berbagai macam sabit.
13480443932021575894
Koleksi sejam 
13480444352053235775
Koleksi keris
Di bagian timur lorong digunakan untuk menyimpan koleksi gerabah dan piala porselen yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte. Sedangkan di sisi kanan (bagian barat) dipergunakan untuk menyimpan koleksi berbahan perunggu seperti berbagai gong, arca-arca perunggu, maupun sebuah lonceng perunggu.
13480449431766807263
Koleksi Gerabah 
1348044973737669452
Koleksi perunggu
1348045008470033081
Awas, lonceng beracun
Di bagian berikutnya, di sisi kiri (Timur) terdapat sebuah perpustakaan kecil. Meskipun kecil, namun perpustakaan ini mempunyai ribuan koleksi di dalamnya. Dan mayoritas koleksinya merupakan naskah buku kuno yang sudah berusia ratusan tahun.  Salah satunya berupa “Serat Centhini” asli yang bertuliskan huruf Jawa. Namun bagi anda yang tidak mengerti huruf Jawa, tak perlu kuatir karena di tempat ini juga terdapatNaskah Carik Tedhakan (Turunan). Namun meskipun begitu, tetep saja masih susah dimengerti, karena masih berupa tembang-tembang Jawa seperti Dhandanggulo, Pangkur, Sinom, Mijil, Asmorodono dan lain sebagainya. Sedangkan di ruang yang bagian kanan merupakan tempat koleksi relung rambut Budha yang terbuat dari perunggu.
1348045644580777450
Perpustakaan yang kaya naskah kuno
1348045690134051590
Salinan naskah kuno berhuruf Jawa 
134804573255154275
Serat Centhini = Kamasutra Jawa? 
Memasuki ruang berikutnya, kita akan melihat seperangkat gamelan Jawa lengkap dengan gelaran wayang kulitnya. Inilah ruangan terbesar di museum ini. Di bagian tepi ruangan terdapat koleksi benda-benda kuno seperti alat pengangkut sesaji keraton Surakarta, sarang burung dengan ornamen naga, mesin ketik berhuruf Jawa, dan masih banyak lagi.
13480460031018124843
Seperangkat gamelan Jawa
1348046069827697083
Sangkar burung dgn ornamen naga
1348046106320757926
Mesin Ketik berhuruf Jawa 
Di bagian kanan (Barat) terdapat sebuah ruangan yang berbau khas harum dupa. Yah disinilah tersimpan koleksi Kyai Rajamala yang masih dikeramatkan karena dipercaya masih memiliki linuwih. Rajamala berupa kepala raksasa yang digunakan untuk hiasan kapal kerajaan. Sedang di sisi lain digunakan untuk ruang memorial KG Panembahan Hadiwijaya.
13480463701682112310
Kyai Rajamala yang dikeramatkan 
13480464111723308519
Ruang Memorial 
Di belakang ruang ini terdapat koleksi yang tak kalah menarik. Yakni berupa koleksi berbagai uang kuno dari berbagai negara, dan berbagai miniatur seperti miniatur Sanggabuana, Makam raja-raja Mataram di Imogiri, dan juga Masjid Agung Surakarta.
13480465881198418368
Miniatur Sanggabuana 
13480466231033865251
Miniatur Masjid Agung Surakarta
13480470711996647280
Koleksi uang kuno 
Tak jauh dari tempat ini merupakan ruangan terakhir bagian museum. Namun di sinilah terdapat koleksi benda-benda berharga. Karena di ruangan terakhir sinilah kelima arca yang sempat hilang itu berada. Kelima arca tersebut arca Agustya Siwa Mahaguru, Durga Mahesa Suramadini, Mahakala, Durga Mahesa Suramadini II dan Siwa. Arca-arca tersebut disusun berjejer keliling ruangan, dengan lingga di bagian tengahnya.
1348047223518099728
Ruangan terakhir yang banyak arca 
Meski hanya merogoh kocek sebesar Rp. 2.500,- ternyata begitu banyak benda-benda dan sastra kuno yang bisa kita saksikan di museum ini.  Jadi siapa bilang berwisata itu harus menelan biaya yang “mahal”. Selain itu dengan mengunjungi museum berarti kita sudah menghargai sejarah dan kebudayaan kita. Bukankah ada ungkapan 
Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya“?

Description: Mengintip Koleksi Museum Tertua di Indonesia Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Mengintip Koleksi Museum Tertua di Indonesia


Shares News - 05.27
Read More Add your Comment 0 komentar


CANDI ARJUNA dan MUSEUM KALIASA - Kedamaian dan Kemisteriusan Istana Siwa Berkepala Tiga





CANDI ARJUNA

Kekayaan budaya peninggalan kejayaan masa lalu tersebar di setiap penjuru nusantara. Salah satunya adalah kompleks Candi Arjuna yang merupakan salah satu candi tertua di Jawa. Di dalam kompleks ini hanya tinggal 5 candi berusia lebih dari seribu tahun yang masih berdiri dengan kokohnya. Di sore yang cukup dingin itu kompleks candi cukup ramai dengan pengunjung. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri berkeliling untuk melihat dari lebih dekat bentuk dan bangunan candi. Suasana terasa santai dan damai. Sekelompok anak muda memanfaatkan tanah lapang di sebelah kanan candi untuk bermain sepak bola.
Kompleks candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Belanda bernama Isidore van Kinsbergen pada tahun 1814. Berbeda dengan candi-candi lain yang sebagian besar ditemukan terpendam di dalam tanah, candi-candi di dataran tinggi Dieng ini pada waktu itu terendam air rawa-rawa. Proses pengeringan dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Entah siapa yang memberi ide, candi-candi ini kemudian diberi nama sesuai dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh penduduk sekitar. Candi utamanya adalah Candi Arjuna, yang berhadapan dengan candi berbentuk memanjang dengan atap limasan yang sering disebut sebagai Candi Semar.
Di sebelah kirinya berdiri berjajar Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Puntadewa memiliki bentuk yang hampir mirip dengan Candi Arjuna, sementara Candi Srikandi dan Candi Sembadra sedikit lebih kecil dan pendek. Berdasarkan cerita penduduk sekitar, Candi Puntadewa berada di tengah-tengah Srikandi dan Sembadra sebagai penengah bagi kedua kakak beradik yang sama-sama menjadi istri dari Arjuna tersebut.
Indahnya taman dengan pohon-pohon cemara dan bunga-bunga di sekeliling kompleks candi menghadirkan nuansa keindahan di tengah kedamaian dan keheningan suasana. Di kejauhan nampak asap putih yang mengepul tiada henti dari kawah-kawah vulkanik yang banyak terdapat di Dieng. Perbukitan dan pegunungan yang mengelilingi menambah kesan damai di hati. Banyak muda-mudi yang memanfaatkan keindahan dan keheningan kompleks candi ini untuk berduaan dengan pasangannya. Berjalan perlahan di tanah berumput yang mengelilingi candi sambil mengagumi keelokan alam ciptaan Tuhan dan menghirup udara segar yang hampir tidak mungkin ditemukan di tengah perkotaan. Tanah berumput itu terasa empuk dan membal. Ternyata benar. Karena dulunya merupakan tanah rawa-rawa maka kandungan air dibawah tanah di sekeliling candi masih cukup tinggi. Sebagai akibatnya, berjalan di atas tanah itu akan terasa seolah berjalan di atas busa.

Trimurti di Candi Srikandi

Kompleks Candi Arjuna merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa yang diperkirakan dibangun pada tahun 809 M dan merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa. Hal ini terlihat dari adanya Lingga dan Yoni di dalam candi utama, serta arca Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya di relung-relung bangunannya. Namun arca-arca ini sekarang ditempatkan di dalam Museum Kaliasa, tidak jauh dari bangunan candi. Secara arsitektur, Candi Arjuna masih dipengaruhi oleh budaya India yang sangat kental. Bentuknya mirip dengan candi di India selatan yang disebut Wimana. Sementara itu Candi Semar kemungkinan besar mengambil bentuk mandapa, yang menjadi bagian dari candi di India, sebagai tempat untuk para peziarah dan festival.
Tidak banyak relief yang ditemukan di kompleks candi ini. Hanya ada relief yang menggambarkan ketiga Dewa Trimurti yaitu Siwa, Wisnu dan Brahma, yang semakin memperkuat bukti bahwa candi ini adalah candi Hindu. Namun anehnya, relief ini tidak dipahatkan pada candi utama. Penggambaran ketiga dewa ini terdapat pada dinding-dinding Candi Srikandi. Sementara dinding candi-candi lainnya nampak polos. Tidak ada satupun dari 12 prasasti yang ditemukan menjelaskan mengenai hal ini. Hanya ada hiasan Kala di pintu masuk candi serta relung tempat arca-arca disemayamkan.

Siwa Berkepala Tiga di Kaliasa

Puas menikmati keindahan dan kedamaian Candi Arjuna, Melangkahkan kaki mengikuti jalan setapak yang menuju kearah barat daya. Kurang lebih 10 menit berjalan kaki, sampailah di pelataran sebuah candi kecil yang sering disebut dengan Candi Gatotkaca. Deretan toko dan warung berdiri berjajar di dekatnya, menyediakan berbagai souvenir maupun makanan dan minuman khas Dieng.
Di seberang jalan, di lereng bukit berdiri sebuah museum bernama Museum Kaliasa. Terdapat 4 bangunan dimana dua duantaranya difungsikan sebagai ruang pamer berbagai macam benda dan artefak peninggalan sejarah. Kebanyakan barang yang dipamerkan adalah arca-arca dan batu-batu dari kompleks candi-candi yang ada di Dieng. Yang paling menarik adalah adanya arca Siwa berkepala tiga yang sering disebut dengan Siwa Trisirah. Siwa Trisirah diketahui merupakan bentuk pemujaan terhadap Siwa yang tertua. Selain itu museum ini juga memajang berbagai informasi mengenai kehidupan khas masyarakat asli Dieng, kesenian tradisionalnya, serta informasi mengenai anak gimbal yang fenomenal itu. Juga terdapat sebuah ruang teater untuk memutar film dokumenter mengenai Dieng dan potensi alam maupun budayanya untuk pengunjung yang berjumlah minimal 10 orang.
Keluar dari ruangan museum, Berjalan menaiki anak tangga batu menuju ke bangunan yang terletak paling tinggi. Ternyata bangunan ini berfungsi sebagai kafe. Sembari melepas lelah setelah mengelilingi candi dan museum, duduk di dalam kafe sambil menghirup minuman panas dan menikmati pemandangan Dataran Tinggi Dieng yang mempesona dari jendela sungguh sayang untuk dilewatkan.
Jadwal Buka
Senin - Minggu pk 07.00 - 17.00 WIB

Harga Tiket
Wisatawan Domestik: Rp. 6.000 (kawah sikidang + candi arjuna)
Wisatawan Mancanegara: Rp. 20.000 (kawah sikidang + candi arjuna)

Museum Kaliasa
Senin - Minggu pk 08.00 - 16.00 WIB

Harga Tiket
Pengunjung domestik: Rp. 2.000
Pengunjung mancanegara: Rp. 2.000


Description: CANDI ARJUNA dan MUSEUM KALIASA - Kedamaian dan Kemisteriusan Istana Siwa Berkepala Tiga Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: CANDI ARJUNA dan MUSEUM KALIASA - Kedamaian dan Kemisteriusan Istana Siwa Berkepala Tiga


Shares News - 02.52
Read More Add your Comment 0 komentar


Pantai Ngobaran, Kabupaten Gunung Kidul




A. Selayang Pandang

Pantai Ngobaran adalah salah satu obyek wisata pantai di daerah Gunungkidul yang memendam sejuta pesona alam dan budaya. Perpaduan kedua pesona yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pantai ini jarang ditemukan di pantai lain di daerah tersebut. Pantai yang terletak sekitar dua kilometer sebelah barat Pantai Ngrenehan ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang menakjubkan seperti hamparan pasir putih, gulungan ombak, barisan batu karang, rumput laut (alga), dan deretan pohon pandan laut, tetapi juga menyuguhkan pesona budaya yang penuh nuansa mistis.
Pantai Ngobaran dikenal sebagai tempat ritual berbagai penganut agama atau kepercayaan. Di kawasan ini terdapat tempat-tempat peribadatan seperti masjid yang berdiri berdampingan dengan pura menghadap ke arah pantai selatan, serta tempat ibadah berbagai aliran kepercayaan seperti Kejawen dan Kejawan. Selain itu, di kawasan pantai ini juga terdapat beberapa arca dan stupa yang sering dijadikan tempat upacara keagamaan. Di puncak bukit karang yang terletak di sekitar Pantai Ngobaran terdapat sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Kotak batu yang berada di depan sebuah rumah Joglo ini dikelilingi oleh pagar kayu berwarna abu-abu. Konon, tepat di mana tanaman kering itu tumbuh merupakan tempat Prabu Brawijaya V membakar diri.


Menurut cerita masyarakat setempat, Prabu Brawijaya V atau biasa dikenal dengan Bhre Kertabhumi yang merupakan keturunan terakhir Kerajaan Majapahit (1464-1478 M) ini melarikan diri dari istana bersama kedua istrinya, Bondang Surati (istri pertama) dan Dewi Lowati (istri kedua), karena enggan diislamkan oleh putranya sendiri yang bernama Raden Fatah Raja I Demak. Mereka berkelana malang-melintang ke daerah-daerah pedalaman dan pesisir. Ketika tiba di pantai yang kini bernama Ngobaran, mereka menemui jalan buntu. Mereka dihadang oleh laut selatan yang sangat ganas ombaknya sehingga tidak tahu harus berlari ke mana lagi. Akhirnya, Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Sebelum menceburkan diri ke dalam api yang telah disiapkan, ia bertanya kepada kedua istrinya. "Wahai, istriku! Siapa di antara kalian yang paling besar cintanya kepadaku?" Dewi Lowati menjawab, "Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung." Sedangkan Bondang Surati menjawab, "Cinta saya kepada Tuan, sama seperti kuku ireng, setiap selesai dikethok (dipotong) pasti akan tumbuh lagi." Begitulah cinta Bondang Surati kepada suaminya, jika cinta itu hilang, maka cinta itu akan tumbuh lagi.
Setelah mendengar jawaban dari kedua istrinya, Brawijaya V langsung menarik tangan Dewi Lowati lalu bercebur ke dalam api yang membara. Pada saat itulah, keduanya tewas dan hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati bercebur ke dalam api karena cinta istri keduanya itu lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Dari peristiwa membakar diri inilah kawasan pantai ini diberi nama Ngobaran. Ngobaran berasal dari kata kobong atau kobaran, yang berarti terbakar atau membakar diri.

Kebenaran cerita tentang Prabu Brawijaya V membakar diri ini masih diragukan oleh sebagian pihak. Menurut keterangan dari sebagian masyarakat setempat yang diperoleh dari orang-orang tua mereka, Prabu Brawijaya V sebenarnya tidak meninggal di kawasan Pantai Ngobaran. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, ada seorang warga yang menyaksikan bahwa yang bercebur ke dalam api bukan Brawijaya V dan istrinya, tetapi anjing peliharaannya. Pendapat ini dibuktikan dengan ditemukannya petilasan (jejak) berupa tulang-tulang sisa kobaran api yang ternyata bukan tulang manusia, melainkan belang yoyang (tulang-tulang anjing).
Cerita versi lain mengatakan bahwa Brawijaya V melakukan moksa (hilang) di puncak Gunung Lawu. Menurut para sejarawan, versi ini sesuai dengan fakta sejarah. Kenyataan memang menunjukkan bahwa Brawijaya V enggan masuk Islam dan tidak mau berperang melawan putranya sendiri sehingga ia meninggalkan istana menuju Blambangan dan kemudian mengasingkan diri ke puncak Gunung Lawu bersama dua orang abdinya Dipa Manggala dan Wangsa Manggala. Di puncak Gunung Lawu itulah Brawijaya moksa dan musnah bersama kedua abdinya. Dengan musnahnya Brawijaya V, maka sirnalah Kerajaan Majapahit. Runtuhnya Majapahit ini dikenal dengan istilah "candrasangkala" atau Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bumi = 1. Kalimat yang mengandung makna angka (bilangan) ini jika dibaca terbalik menyatakan tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 M.


Terlepas dari perbedaan versi cerita di atas, hingga kini sebagian masyarakat setempat tetap meyakini bahwa Brawijaya V pernah meninggalkan jejak di Pantai Ngobaran sehingga kawasan ini menjadi salah satu obyek wisata petilasan atau wisata pantai ritual yang ada di Gunungkidul. Penganut Kejawan yang merupakan aliran kepercayaan peninggalan Prabu Brawijaya V sering melakukan ritual di kawasan ini. Selain itu, penganut agama Hindu juga sering melakukan upacara Galungan setiap bulan purnama dan Upacara Melastri dalam rangkaian upacara Hari Raya Nyepi. Begitu pula penganut kepercayaan Kejawen, setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon mengadakan ritual di kawasan ini.

B. Keistimewaan

Saat memasuki kawasan Pantai Ngobaran, Anda akan disambut oleh suasana mistis yang berpadu dengan suara ombak yang terhempas di tebing-tebing batu karang. Pesona budaya yang pertama kali Anda temui adalah sebuah prasasti yang terletak di antara arca dan stupa. Konon, prasasti itu dibuat oleh masyarakat setempat untuk mengenang peristiwa menghilangnya Prabu Brawijaya V di kawasan itu. Pada prasasti tersebut tertulis sebuah Ikrar Kesatria yang berisi tiga butir, yaitu: AKU BERSUMPAH SETYA DAN PATUH: 1). Menghormati, menjunjung tinggi dan menghormati para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri; 2). Menghormati dan menjunjung tinggi ajaran Trimurti ajaran kepercayaan lelulur cikal bakal bangsaku sendiri; 3). Menghormati, menjujung tinggi dan menjaga bumi pertiwi, tanah tumpah darah para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri.
Berjalan ke arah selatan prasasti tersebut, Anda akan menemui sebuah bangunan pura yang terletak di ujung bukit batu karang. Di samping pura itu, Anda dapat menyaksikan pemandangan laut lepas yang menakjubkan. Tidak jauh dari pura itu, Anda juga dapat menemui sebuah rumah joglo dan sebuah mushola berukuran kurang lebih 3 x 4 meter yang berlantai pasir. Bangunan mushola ini sangat unik karena arah kiblatnya menghadap ke selatan. Bagi pengunjung yang ingin melaksanakan shalat tidak perlu bingung dengan arah kiblat karena penduduk setempat telah memberi tanda pada dinding mushola tentang arah kiblat yang sebenarnya. Usai melaksanakan shalat, pengunjung pun dapat menyaksikan keindahan Pantai Ngobaran dari tempat imam memimpin shalat karena pada bagian tersebut terbuka lebar.
Setelah puas menikmati suasana mistis, Anda bisa berjalan ke arah barat mengikuti jalan menurun menuju ke pantai. Di sana Anda akan menyaksikan pesona alam Pantai Ngobaran yang dapat membius pandangan Anda. Pantai ini dihiasi oleh hamparan pasir putih dan karang-karang berselimut alga. Jika dilihat secara sekilas, pantai ini bagaikan hamparan permadani hijau. Alga atau dalam bahasa Jawa disebut karangan itu menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat.
Jika berkunjung ke pantai ini pada saat air laut surut, yaitu sekitar pukul 06.00 - 11.00 pagi, Anda akan menjumpai masyarakat pantai tengah mencari karangan untuk dijual kepada tengkulak yang kebanyakan berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Jika ingin membawa pulang rumput laut untuk diolah di rumah, pengunjung dapat memperolehnya dengan harga yang relatif murah. Di kawasan ini tersedia beragam jenis karangan seperti karangan simbar untuk bahan pembuatan kerupuk dengan harga Rp 3000,00-Rp 5.000,00/kg, karangan lumut dengan harga Rp 1.500,00-Rp 2.000,00/kg, dan karangan ager untuk bahan agar-agar dengan harga Rp 1.200,00-Rp 1.500,00/kg.
Jika Anda berkunjung pada sore hari, Anda bisa menyaksikan aktivitas para nelayan di sekitar pantai yang sedang mencari beragam jenis biota laut seperti landak laut, bintang laut, lobster, dan kerang-kerangan. Biota laut tersebut banyak hidup di kolam-kolam mini yang berada di sela-sela batu karang.
Setelah menikmati sejuta pesona budaya dan alam kawasan pantai ini, kunjungan Anda serasa tidak lengkap jika tidak menikmati wisata kulinernya. Salah satu menu khas yang tersedia di warung-warung makan di sepanjang jalan masuk ke kawasan pantai ini adalah Landak Goreng. Menurut penduduk setempat, daging landak cukup kenyal dan rasanya lezat. Cara menyantapnya pun cukup unik, yaitu duri landak laut terlebih dahulu dikepras (dibabat) hingga rata dan kemudian dipecah dengan menggunakan sabit hingga dagingnya terlihat. Setelah itu, daging landak dicongkel. Sajian wisata kuliner khas ini menjadi penutup dari segala sensasi yang ditawarkan oleh Pantai Ngobaran.

C. Lokasi

Pantai Ngobaran berlokasi di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia.

D. Akses

Akses menuju ke pantai ini sama dengan akses menuju ke Pantai Ngrenehan. Pengunjung dapat melewati dua jalur utama yang biasa digunakan oleh penduduk setempat maupun para wisatawan. Jalur pertama adalah Yogyakarta - Lapangan Udara Gading - Pertigaan Gading (ambil arah ke kanan) - Playen - Paliyan - Trowono - Saptosari - Pantai Ngobaran. Jalur kedua adalah Yogyakarta - Kota Wonosari - Paliyan - Trowono - Pantai Ngobaran.
Jika Anda berada di Pantai Parangtritis, maka akan lebih dekat untuk sampai Pantai Ngrobaran. Anda hanya tinggal menaiki jalan menanjak di sisi sebelah timur Pantai Parangtritis menuju ke arah Panggang. Dari Panggang Anda mengambil jalur yang menuju Saptosari dan Pantai Ngobaran.

E. Tiket

Biaya tiket masuk ke kawasan Pantai Ngobaran sebesar Rp 3.000,00. Salah satu keuntungan mengunjungi pantai ini adalah, dengan harga tiket tersebut, pengunjung juga dapat menikmati pesona kawasan Pantai Ngrenehan yang sudah menjadi satu paket dengan Pantai Ngobaran.

F. Akomodasi dan Fasilitas lainnya

Akomodasi dan fasilitas yang ada di Pantai Ngobaran belum begitu lengkap, karena kawasan ini belum terjangkau oleh aliran listrik. Fasilitas seperti losmen dan penginapan belum tersedia sehingga hanya memungkinkan para wisatawan berkunjung ke pantai ini pada siang hari. Namun yang sudah tersedia di antaranya kamar mandi, warung makan, tempat ibadah, dan tempat parkir.
Description: Pantai Ngobaran, Kabupaten Gunung Kidul Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Pantai Ngobaran, Kabupaten Gunung Kidul


Shares News - 04.37
Read More Add your Comment 0 komentar